Kamis, 20 Juni 2013

Kerajaan Safawi di Persia
Kerajaan safawi berasal dari sebuah gerakan tarekat di Ardabil, sebuah kota di Azerbaijan. Tarekat ini diberi nama tarekat Safawiyah, di dirikan pada waktu yang hampir bersamaan dengan berdirinya kerajaan usmani[3]. Nama Safawiyah diambil dari nama pendirinya, Safi Al-Din (1252-1334 M) dan nama safawi itu terus dipertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik. Bahkan, nama itu dilestarikan setelah gerakan ini mendirikan kerajaan.
Safi Al-Din berasal dari keturunan orang yang berbeda dan memilih sufi sebagai jalan hidupnya. Ia keturunan dari iman syi’ah yang ke enam. Musa Al-Kazim. Gurunya bernama syaikh Taj Al-Din Ibrahim Zahidi (1216-1301 M) yang dikenal dengan julukan Zahid Al-Din diambil menantu oleh gurunya tersebut. Safi Al-Din mendirikan tarekat Safawiyah setelah ia menggantikan guru dan sekaligus mertuanya yang wafat tahun 1301 M. Pengikut tarekat ini sangat teguh memegang ajaran agama. Pada mulanya gerakan tassawuf Safawiyah bertujuan memerangi orang-orang ingkar.


Faktor-faktor Kemunduran Kerajaan Safawi
Sepeninggal Abbas I Kerajaan Safawi berturut-turut diperintah oleh enam raja, yaitu Safi Mirza (1628-1642 M), Abas II (1642-1667 M), Sulaiman (1667-1694 M), Husain (1694-1722 M), Tahmasp II (1722-1732 M), dan abas III (1733-1736) pada masa raja-raja tersebut kerajaan safawi tidak menunjukan grafik naik dan berkembang, tetapi justru memperlihatkan kemunduran yang akhirnya membawa kepada kehancuran.
Sebab-sebab kemunduran Kerajaan Safawi, antara lain:
Para Pemimpin yang lemah.
Safi Mirza, cucu Abbas I, adalah seorang pemimpin yang lemah. Kota Qondahar (sekarang termasuk wilayah afganistan) lepas dari kekuasaan kerajaan safawi, diduduki oleh kerajaan mughal yang ketika itu dipimpin oleh Sultan Syah Jehan, sementara baghdad direbut oleh kerajaan Usmani.
Para Pemimpin suka minum-minuman keras.
Abbas II adalah raja yang suka minum-minuman keras sehingga ia jatuh sakit dan meninggal. Meskipun demikian, dengan bantuan wajir-wajirnya, pada masa kota Qandahar dapat direbut kembali. Sebagaimana Abbas II, Sulaiman juga seorang pemabuk. Ia bertindak kejam terhadap para pembesar yang dicurigainya. Akibatnya, rakyat bersifat masa bodoh terhadap pemerintah. Ia diganti oleh Shah Husein yang alim. Pengganti sulaiman ini memberi kekuasaan yang besar kepada para ulama Syi’ah yang sering memaksakan pendapatnya terhadap penganut aliran Sunni. Sikap ini membangkitkan kemarahan golongan Sunni Afhganistan, sehingga mereka berontak dan berhasil mengakhiri kekuasaan dinasti Safawi.
Adanya dekadensi moral yang melanda sebagian pemimpin. Hal ini juga turut mempercepat proses kehancuran kerajaan Safawi.
Konflik yang berkepanjangan dengan kerajaan Usmani yang beraliran Syi’ah. karena pasukan ghulam (pasukan budak) yang dibentuk oleh Abbas I tidak memiliki semangat perang yang tinggi seperti Qizilbash.
Adanya konflik internal kerajaan, dalam bentuk perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana.






Daulah Safawiyah berdiri pada tahun 1501 di Persia. Pendirinya adalah Syah Ismail, adapun nama Safawiyah dinisbahkan kepada nama Thariqah Safawiyah yang didirikan oleh Safiuddin Ishaq (1252-1334) di Ardabil Azerbayen. Sebenarnya Daulah Sawafiyah merupakan lembaga tasawuf atau thariqah, namun seiring berkembangnya zaman beralih menjadi gerakan religious-politik. Daulah inilah yang menjadi cikal bakal Negara Iran. Pemerintahan ini berkuasa selama 2 abad dan menganut aliran Syiah bahkan syiah dijadikan sebagai madzhab kerajaan.
Masa kejayaan dinasti ini terjadi pada kepemimpinan Syah Abbas (pemimpin ke-5). Hal ini ditandai dengan berkembangnya peradaban pertaniannya, sedangkan dalam bidang perdagangan sawafiyah sangat maju dengan menjadi penguasa jalur perdagangan antara barat dan timur. Dalam sector militernya Safawiyah berhasil mengalahkan pasukan usmaniyah yang ingin mengusai daerah kekuasaannya (Persia). Sedangkan peradaban seni dan arsitekturnya terbukti dengan berdirinya Istana Ali dan berbagai bangunan seperti Masjid yang sangat indah. Dalam bidang pendidikannya Safawiyah juga maju, hal ini terbukti dengan banyaknya lembaga-lembaga pendidikan serta lahirnya beberapa ilmuwan seperti Bahaudin al-Amili (generalis ilmu pengetahuan), Sadr al-Din al-Syirazi (filsafat), dan Muhammad Baqir (filsafat, teologi, dan sejarah).
Setelah dua abad berkuasa akhirnya dinasti ini hancur ketika masa pemerintahan Abbas III (1732-1736). Adapun runtuhnya kerajaan ini disebabkan oleh beberapa alasan diantaranya adalah merasuknya sikap hedonis kepada para pemerintah yang mengakibatkan konflik antar saudara untuk merebut kekuasaan, lemahnya militer yang didominasi oleh budak, pemaksaan madzab kepada rakyat, serangan daulah usmaniyah, dan serangan tentara suku Afghan.
daulah safawiyah adalah salah satu kerajaan islam besar setelah dinasti abbasiyah, jumlah kerajaan islam setelah daulah abbasiyah sangatlah banyak. dan yang terbesar salah satunya adalah daulah safawiyah, selain itu adalah daulah mughal dan sutsmaniyah.
salam hangat
mustwildan